Fase Ironi (Sajak Kehidupan) oleh Chinthia Ayu Dayana

Fase Ironi (Sajak Kehidupan) oleh Chinthia Ayu Dayana
Terbentuk dari tetes sperma kemudian tumbuh menjadi seonggok daging yang bernyawa dan diberi akal. Lahir dan tumbuh di lingkungan eksklusif dengan standar sosial yang tinggi. Aku mulai berjalan dan menanam harapan.

Waktu yang terus berlalu. Berproses selama ini, nyatanya menjadi aku tidak mudah. Dibelenggu oleh tindakan mereka yang mematikan harapan-harapanku. Itulah awal dari ego yang bertunas dan menghasilkan buah pemberontakan.

Aku memahami diriku senang menyepi dan menikmati sunyi. Kamar adalah saksi bisu atas lelah untuk berusaha menjadi kuat. Terpaku pada harapan-harapan yang mati, aku benci mengkhianati diri.

Kala pun berada di keramaian, ku bungkam segala jerit putus asa, pikiran yang kacau dan hati yang patah. Mengaduh dalam diam dan berusaha menampakkan diriku baik-baik saja.

Malam yang meninggi, aku berharap ada esok pagi yang tenang dan memberi secarik harapan untuk menang. Namun dengan kejam mimpi buruk mengotori lelapku, ia datang bersama angin dan berteriak "Kamu tidak pantas, sayang".

Terbangun oleh amarah yang meledak-ledak. Lagi-lagi kenyataan menikam aku. Kali ini luka yang sangat dalam dan lebih sakit dari apa yang berdarah-darah. Aku membenci keadaan dan membenci hidupku.

Aku ingin mereka mendengarkan suaraku,  menerima keadaanku dan menghargai pilihanku. Namun, hardikan mereka yang selalu menuduh aku akar permasalahan dan menyudutkan aku atas semua kesalahan. Ah, aku sudah kebal dengan makian. (CAD)

Buka Komentar