Film Dua Garis Biru, Tonton atau Boikot?

Film Dua Garis Biru, Tonton atau Boikot
Layar bioskop tanah air kedatangan sebuah film drama remaja berjudul 'Dua Garis Biru' (DGB). Tema utama yang diangkat dari film ini adalah tentang kehamilan di masa remaja yang berawal dari pacaran kebablasan. Kemunculan film tersebut sejak awal kian menuai pro kontra.

Kalangan yang mendukung berasumsi bahwa dengan adanya film DGB akan mengurangi kasus kehamilan diluar nikah yang tingkatnya cukup tinggi. Data survei yang dilakukan oleh KPAI dan Kemenkes (2013, kompasiana) memaparkan bahwa 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan seks diluar nikah.
Film ini merupakan edukasi agar para remaja tidak kebablasan dan kehilangan masa depan.

Namun banyak pula penolakan yang muncul dari film DGB. Hal tersebut didasari alasan adanya sebagian scene yang menunjukkan situasi pacaran yang tidak layak dipertontonkan pada generasi muda. Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton. 

Terlepas dari pro kontra film DGB, pergaulan bebas bukanlah hal baru yang jadi masalah dari masa ke masa. Sebagai seorang muslim setiap permasalahan yang ada harus dikembalikan pada syariat. Aturan yang berlaku dalam agama.

Hal pertama yang harus diyakini adalah islam agama yang komprehensif. Sempurna dalam setiap sisi kehidupan. Bahkan masuk toilet pun ada aturannya dan islam satu-satunya agama yang detail mengatur sejak bangun tidur hingga kembali tertidur.

Jika seks edukasi versi DGB mengajarkan agar tidak pacaran kebablasan, islam punya solusi seks edukasi yang jelas lebih baik yaitu  pacaran setelah nikah.

Memang tidak semua orang yang pacaran sampai kebablasan. Tapi semua yang kebablasan bisa dipastikan berawal dari aktivitas pacaran. Baik itu berpegangan tangan, rangkulan, berduaan di jalan hingga akhirnya gelap-gelapan ditemani setan. 

Tentunya tidak mudah bagi seorang muslimah zaman now untuk yakin menikah tanpa pacaran yang 'katanya' proses perkenalan. Sekalipun dilamar oleh seorang hafizh quran.

Dalam konsep pacaran setelah menikah, bukan berarti kita menikah dengan orang yang tidak dikenal sama sekali. Proses pengenalan dan pencarian jati diri tetap dilakukan yang disebut ta'aruf. Namun bedanya proses pengenalan ini tanpa adegan berdua-duaan karena saling tanya jawab didampingi perantara (mahram/orang tua/saudara/ustadz/ah). Atau bisa kepo melalui postingan di medsos. Dari sinilah akan terlihat jati diri seseorang.

Bagaimana jika terdapat sesuatu yang baru diketahui setelah menikah? Ah, kalau ini sih pacaran atau tidak semua orang baru ketahuan aslinya setelah menikah.

Namun berkah atau tidaknya suatu pernikahan bergantung pada proses yang sebelumnya telah diusahakan. 

Bagi pasangan yang menikah melalui proses taaruf tanpa sentuhan sebelum halal, bersyukurlah telah menjaga kesucian.

Bagi yang menikah melalui proses pacaran, jadikan pernikahan sebagai pertaubatan agar tidak pacaran lagi dengan yang lain (clbk, selingkuh, dll). 

Kembali ke film DGB. Jika sasarannya adalah edukasi, sebaiknya dampingi remaja dan berikan arahan untuk memahami maksud film tersebut.

Namun tidak bisa dipungkiri adanya adegan mesra ala remaja yang akan mengendap di alam pikiran. Adegan romantis drama korea atau bahkan telenovela yang ditonton saat masa anak-anak pun sulit dihilangkan dari memori bukan?

So, it's up to you. Pilih seks edukasi versi DGB atau versi syariat islam.
Dari si awam 😀 (Ratih Desyanti)

Buka Komentar