Rindu Yang Menyakitkanku

Hari ini ku terbangun dari lelap tidurku dengan penuh kebahagiaan, ketika kulihat layar hp ternyata telpon itu masih tersambung denganmu. Telpon yang dari tadi malam menyambungkanku pada suara indahmu, yang mengantarkanku tidur dengan rasa kedamain selalu.

Sekilas ku dengar, ternyata kau masih tertidur pulas. Ku lihat jam menunjukkan pukul 5.50, aku pun beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu karena takut meninggalkan kewajibanku kepada Tuhanku.

Aku bangun memang tidak teratur setiap harinya. Kadang pas adzan berkumandang, dan kadang pula kesiangan akibat bergadang larut malam. Namun, hal yang paling aku nantikan adalah ketika aku menghabiskan malam berdua denganmu berbincang-bincang.

Ada banyak cerita yang selalu aku nantikan, ada banyak puisi yang selalu aku rindukan, dan ada banyak canda tawa yang selalu membuatku terngiang-ngiang.

"Sayang?!" terdengar suara dibalik telpon itu.

"Iya sayang, ada apa?", jawabku.

"Kok kamu gak bangunkan aku?", tanyanya padaku.

"Kamu kan lagi PMS, lagian semalam kamu lama baru tidur, yaudah aku gak mau tidur kamu. O,ya bentar dulu ya, aku mau sholat dulu", (aku bergegas ngambil sarung dan sajadah karena sebentar lagi jam 6 pagi)

Sebenarnya perasaanku tak enak meninggalkan pembicaraan itu, tapi lebih tak enak lagi ketika aku meninggalkan perintah Tuhanku.

Dulu aku pernah lebih mementingkan pacar dibanding Tuhan, hanya demi membahagiakan dia, aku justru menunda kewajibanku. Aku tahu itu salah, dan aku tidak ingin mengulanginya lagi.

Setelah sholat aku coba baca Al-qur'an dan dzikir pagi untuk menjaga diri dari pagi sampai petang nanti. Setelah itu baru aku panggil dia lagi.

"Yank, kamu udah cuci muka?", tanyaku.

"Belum, di sini dingin. Nanti ajalah" jawabnya padaku.

"Yaudah, sini aku cium. Muaach, hmm sayang bau?!", kucoba menggodanya.

"Yee, kalau bau ngapain di cium?", dia sedikit kesal dengan kata-kataku.

"Hehe... kan sayang memang bau, bau wangi maksudnya. Sini aku cium lagi." Ku kecup dia tiga kali.

"Gombal", sahutnya.

Percakapan itupun mengalir begitu saja, bak deburan ombak di samudra, menghantam batu karang berulang-ulang. Dengan suara air beriak di tepian pantai. Burung-burung melantunkan syair merdunya menghiasi langit berwarna jingga. Canda tawa, saling menggoda, itu yang membuatku tergila-gila.

Namun sayang, tak terasa jam menunjukkan pukul 7.50, aku harus siap-siap menjalankan aktivitas harianku. Akhirnya aku harus pamit kepadanya meski berat ku meninggalkannya.

Aku segera menuju kamar mandi membasahi tubuhku dengan air hangat di shower itu. Dinginnya pagi menjadi tak berarti karna ada kamu yang selalu menemaniku. Derasnya air mengguyur tubuhku satu persatu menghilangkan kantuk dan lelah di pundakku, sama seperti saat aku melihat senyum manis dan mendengar merdu suaramu. Aku sungguh menikmati itu.

Kujalani detik demi detik dengan kesibukaku, meski ku tahu aku tak pernah bisa melupakanmu yang selalu berlarian dalam pikiranku. Aku kadang berpikir, "Mengapa aku yang merasakan lelah karena rindu, sementara yang berlari itu kamu?"

Ah, ditengah kesibukanku bayangmu selalu membuatku tenang. Di dalam kerinduan, keinginan untuk hidup di kota yang sama dan di bawah atap yang sama menerangkan hatiku. Semoga engkau baik-baik saja selalu.

Aku berjalan ke sana kemari mengurus berkas, bertemu orang-orang dikantor dengan wajah penat. Tak mengapa aku lakukan semua ini, yang terpenting nanti aku bisa bertemu denganmu dengan diriku yang pantas untukmu.

Akan kuperjuangkan rasa yang mengakar di dalam dada ini hingga terkadang menusuk relung hatiku satu persatu karena rasa cemburu dan keinginan yang masih terlihat semu, tapi tetap nyata bagiku.

Kamu adalah alasanku untuk hidup, alasanku untuk berjuang, dan alasanku untuk pulang. Beraktivitas seharian terkadang membuat tubuhku lelah. Belum lagi harus mengurus bisnis pribadi yang membuatku sibuk sendiri meskipun ada karyawan yang membantu tapi tetap saja harus ku kontrol semua itu.

Ku lihat jam di lengan kiriku, tak terasa sudah jam 15.00. Aku segera pulang, sesampainya di kamar ku rebahkan tubuhku di atas kasur yang terlihat seperti hamparan busa samudra, putih dan menenangkan, sampai aku sendiri hampir ketiduran.

Ku chat dia untuk mendengar kabarnya, bertanya lagi apa dan sudah makan atau belum. Aku tahu pertanyaan itu sedikit membosankan baginya. Tapi aku juga tidak mau dia kenapa-kenapa dan aku harap dengan pertanyaan itu dia sadar bahwa aku ingin dia menjaga diri agar selalu sehat-sehat saja.

Tiba-tiba dering telponku berbunyi, kulihat ada video call dari temanku ku, oh Ros. Ku coba angkat telpon berukuran 6 inch itu. Lalu ku lihat ada gadis berjilbab pink di layar gadgetku.

Kulihat dia sedang kebingungan dan tak segan ku bertanya,"Lagi apa Ros?"

"Aku lagi buka microsoft word yang baru aku install tadi, tapi malah muncul peringatan harus di aktivasi. Udah di coba berkali-kali tetap saja gak bisa."

"Coba sini aku lihat," Jawabku padanya sambil meminta dia menyorot layar laptopnya.

Akupun menuntunnya untuk mendownload file yang diperlukan. Pembicaraan itu agak sedikit lama karena banyak langkah yang harus di lakukan. Sampai akhirnya ada chat dari dia.

"Kamu lagi apa?", tanya pacarku.

"Aku lagi video call sama teman, dia minta bantu aktifkan Microsoft Word, bentar ya." aku jawab pertanyaannya dengan rasa senang, karena setiap chatnya masuk adalah kebahagiaan bagiku.

"Ya gak apa-apa kok... Santai aja sayang", dia membalasku.

Ku kirim screenshot video call itu agar dia tidak berpikiran macam-macam kepadaku, aku tau meskipun aku tak melakukan itu dia sudah percaya padaku, tapi aku hanya ingin dia lebih yakin saja bahwa dia satu-satunya yang kupunya.

Setelah beberapa menit langkah yang harus dilakukan Ros pun sudah mau selesai, aku menyuruhnya untuk melanjutkannya sendiri.

"Habis ini kamu bisa melanjutkannya sendiri kan ya?" tanyaku pada Ros.

"Iya, bisa kok. Makasih ya" jawabnya padaku.

Lalu ku lanjutkan chat dengan pacarku, ternyata dia sedang sakit. Rasa khawatirku pun menjadi-jadi. Ingin ku menemani di sisinya, tapi belum bisa karena jarak yang memisahkan kita.

Demam, tenggorokan sakit, panas dalam, itu yang kudengar darinya. Aku berusaha memastikan dia sudah minum obat dan memintanya lebih banyak beristirahat.

Sebetulnya aku ingin mendengar suaranya, tapi aku takut itu memperparah rasa sakit ditenggorokannya, sehingga kubatasi keinginanku itu.

Tiba-tiba aku terlelap dalam tidurku, dan tau-tau sudah maghrib. Kubasahi wajahku dengan air dingin untuk menyegarkan badanku. Ku hadap Tuhan, dan berdoa padanya semoga lelahku cepat reda dan semoga engkau segera sembuh dari rasa sakitmu.

Hmm... Ku ingin sekali menelponmu, namun ada ragu, karena takut mengganggu dan sedikit mengusik ketenanganmu, walaupun di dalam hati ini rasa rindu terus menggebu-gebu.

Perasaan itu mulai tidak terbendung, seakan meluap-luap seperti sebuah gelas yang terisi penuh oleh air tiada henti. Akhirnya aku berusaha jujur dengan keinginanku.

"Sayang lagi apa, Aku pengen nelpon tapi tenggorokan kamu lagi sakit" ungkapku padanya.

"Padahal aku nunggu telfon kamu", jawabnya mungkin sedikit kesal.

Aku senang dengan jawaban itu, artinya dia juga merasakan yang sama sepertiku. "Oh Tuhan, terima kasih atas rasa yang Engkau titipkan pada kami berdua.", ucapku dalam hati.

Ku telpon dia, terdengar suara lemasnya akibat sakit itu. Rasa senang dan khawatir beradu dalam dadaku. senang karena bisa mendengar suaranya akibat rindu, di sisi lain aku khawatir dengan keadaannya.

Obrolan itu berlanjut kurang lebih setengah jam. Dia kesal kepadaku karena aku tidak menelponnya dari tadi. Aku meminta maaf dan menjelaskan alasanku padanya. Supaya moodnya balik lagi dia ingin aku nyanyi, karena dia memang suka dinyanyikan.

Tapi dia meminta untuk pindah ke obrolan Hago, aplikasi voice chat yang sempat tenar itu. Kami sering mengobrol di sana karena kualitas suara memang lebih baik dibanding ngobrol pakai WhatsApp.

Lalu WhatsApp pun aku matikan, aku coba membuka aplikasi kuning itu. Tapi sesampainya di sana aku tidak menemukannya aktif. Berkali-kali aku cek akunnya satu persatu, tetap sama saja. Tidak ada apapun meski sudah ku tunggu. Aku juga mencoba buka room sendiri, siapa tau dia yang mau datang ke tempatku. Namun sama saja, tidak ada.

Akhirnya, rasa capek di tubuhku dan sedikit kecewa di hatiku menggumpal menjadi satu. Dia yang memintaku untuk datang, tapi dia juga yang menghilang.

Kucoba chat lagi.

"Kamu sibuk?" pesanku kirim, tapi tak dibaca selama 2 menit

"Yaudahlah" ku kirim satu lagi dengan penuh kecewa karena tak ada kabar berita.

Eh, ternyata dia lagi di room temannya. Sempat terlintas di pikiranku kalau aku tidak lebih penting dari yang lain. Tapi aku menepis pikiran itu dengan kata "ah sudahlah, mungkin aku yang terlalu rindu saja"

"Bentar yank, tadi aku mau ngerencanai ngeprank temanku yang ultah", itu katanya.

"Kamu ngeprank aja dulu", jawabku putus asa dengan rasa yang kupunya.

Mungkin aku sendiri yang merasakan rindu ini, seperti aku berdiri di gundukan pasir rindu tapi tak ada satupun orang di sekelilingku saat itu.

Sebetulnya aku tidak membatasinya untuk berteman dengan siapa saja, tapi setidaknya jangan membuatku menunggu. Memintaku sesuatu, lalu pergi begitu saja.

Bukankah chat sambil ngobrol itu gampang? Apa susahnya saat di room teman, kamu buka WhatsApp sebentar lalu bilang "Tunggu bentar ya, aku ke room teman dulu"

Alasan karena teman ultah itu benar-benar tidak masuk akal bagiku, justru aku bisa melihat mana yang lebih kau prioritaskan, mereka atau aku.

Ah sudahlah, aku juga sudah berusaha masuk dan room itu terkunci begitu saja.

Moodku hilang dan aku lelah dengan semuanya. Beginilah aku, tersiksa oleh rasa rindu.



Buka Komentar