Berat Rasanya Kau Harus Benar-Benar Pamit

Semalam, kita sempat bertengkar hebat gara-gara kesalah pahaman. Namun, pagi ini aku merasa akan ada yang hilang dari hidupku. Walaupun hatiku masih menyisakan kekesalan karena semalam, tapi tak bisa dipungkiri hati kecilku juga belum siap ditinggal jauh olehmu.

Aku sungguh mencintaimu meski aku sadar aku pernah terluka parah olehmu, aku sungguh menyayangimu meski tak jarang kita beradu mulut, berperang ego, dan saling menyakiti. Aku sungguh menyukaimu, meski kau pernah melontarkan kata-kata yang aku benci.

Pagi ini aku benar-benar bingung dengan keadaan kita, kesal tapi takut kau pergi, marah tapi tak ingin kau jauh, dan gundah, itu yang saat ini aku rasakan.

Kau tahu, meski aku merasakan itu semua, aku berusaha untuk meredamnya sedikit demi sedikit, karena hari ini adalah 3 hari paska hari ulang tahunmu dan hari ini juga adalah hari terakhirku bisa mendengar suaramu.

Aku tidak mau kamu pergi dalam keadaan sedih dan penuh dengan kekhwatiran, aku juga tidak mau aku menjadi beban pikiranmu. Aku mau kamu tenang saat belajar di sana. Menghafal Al-Qur'an dengan khusuk agar menjadi khafizah yang hebat, yang bisa menghadiahkan jubah serta mahkota kepada kedua orang tuamu di surga.

Aku juga sangat berharap kamu akan menjadi ibu yang baik buat anak-anak kita kelak, karena pengetahuan agamamu yang banyak sehingga bisa menjadi guru pertama serta panutan bagi mereka.

Aku sadar betul, anak-anak biasanya lebih dekat dengan ibunya. Meskipun tugas untuk membimbing mereka tugas kita berdua, namun aku juga ingin kamu menutupi kekurangan-kekuranganku.

O,ya saat kamu bilang 1 kamar ditempati 90an orang, aku semakin khawatir dengan keadaanmu, belum lagi kotor dan berantakan akibat masih di renovasi serta makanannya tidak enak seperti katamu. Aku hanya bisa berdoa di dalam hati agar kamu bisa menyesuaikan diri, berbaur dengan santri putri sampai mendapatkan teman sejati.

Ku mohon pada Tuhan agar kamu diberikan kesabaran dan ketabahan, supaya bisa betah di sana, supaya tidurmu juga nyaman, dan bisa menjalani hari-hari dengan tenang.

O,ya di detik-detik perpisahan, aku sedikit lega karena ada kabar pasti dari kamu tentang kamar yang mana yang kamu tempati. Jadi akan mudah nanti bagiku untuk kirim sesuatu.

Selang beberapa menit setelah kau pamit, aku mulai merasakan kehampaan, uring-uringan gak jelas, lalu ku coba alihkan perhatianku dengan bermain game. Eh, justru aku semakin merindukanmu karena ingat seketika saat kita bermain game bersama. Hmmm... Aku kangen.

Ku tulis chat di Facebookmu, seperti pesanmu sebelum pergi,"Kalau ada apa-apa chat di facebook aja, sebab di sana kamu gak bisa membawa hp, kalau chat di Whatsapp pasti tidak bisa, tapi kalau chat di facebook pasti akan bisa kamu cek kapan saja saat kamu online.
Buka Komentar