Lyudmilla Fay : Kepada Suami, Istri Bukan Robot Yang Tidak Bisa Lelah

Lyudmilla Fay : Kepada suami, Istri bukan robot yang tidak bisa lelah
Lyudmilla Fay - Tulisan ini khusus saya tujukan untuk para suami. Terutama mereka yang masih saja menganggap enteng pekerjaan seorang istri (dan ibu).

Ketika kamu pulang dan rumah dalam kondisi berantakan. Bantulah istrimu membereskan pekerjaan itu, bukan justru menegur apalagi mengeluhkan kondisi tersebut.

Bisa jadi, seharian itu entah sudah berapa kali istrimu merapikan rumah, tapi karena anak-anakmu sedang ada di fase aktif dan eksplore, kondisi jadi tidak pernah bisa rapi.

Ketika kamu pulang dan istrimu masih belum merapikan diri. Sapalah dia dengan senyum dan pujian, ambil alih penjagaan anak, lalu katakan, "Bun, capek, ya? Sini anak-anak biar sama Ayah dulu, Bunda bersih-bersih terus kita makan bareng."

Ketika kamu bangun tidur dan kopi belum tersaji di meja. Pergilah ke dapur, mandiri dan buat sendiri kopimu. Meski rasanya tidak senikmat buatan istri, tapi pahala yang kamu dapat sudah pasti. Bisa jadi, pagi itu istrimu sedang tidak enak badan, tapi tidak mengatakannya kepadamu.

Pak, harga dirimu tidak akan jatuh hanya karena membantu pekerjaan rumah. Menyapu halaman, mencuci piring, atau menjemur pakaian. Hal itu tidak akan menghilangkan kelelakian kamu.

Ingatlah, istri bukan robot yang tidak bisa lelah dan bisa bekerja 24 jam tanpa istirahat. Mereka mungkin tidak mengeluh. Mereka mungkin tidak terlihat lelah. Mereka hanya sedang berusaha untuk terus menjadi istri yang menyenangkanmu, meski sebenarnya itu tidak selalu bisa mereka lakukan.

Saat pulang dari bekerja, bawalah buah tangan meskipun hanya sebungkus roti.
Saat pulang dari bekerja, ucapkanlah pujian meskipun dia belum mandi.

Jangan malu meminta maaf saat melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Jangan malu mengucapkan terima kasih karena dia sudah mengurusi rumah dan anak-anakmu seharian.

Mungkin setiap kali habis gajian, kamu bisa membawa istri jajan berdua di pinggir jalan. Ulangi lagi kenangan masa pacaran. Sekadar makan semangkuk bakso seharga lima belas ribu, lalu pulangnya belikan dia kerudung atau sepatu di pasar kaget.

Jangan malu untuk memuji istri di depan orang lain. Karena pujianmu adalah penambah power bagi istri.

Tidak perlu bicara dengan nada tinggi saat istri berbuat kesalahan.
Tidak perlu berteriak kasar saat istri melakukan kecerobohan.

Kamu bisa bicara sambil memeluk dia di kamar. Misalnya saja, seperti ini: "Bunda, tadi itu Bunda nggak sengaja hapus file kerja Ayah, ya, di komputer? Besok-besok, biar Ayah aja yang matikan komputer, ya. Bunda kan udah capek seharian ngurusin rumah."

Tahukan kamu, duhai lelaki bergelar suami?
Bahwa ketika seorang Ibu mengalami tekanan yang membuatnya stres, maka dampak paling buruk bisa diterima oleh anak-anak, sebab yang ada bersama Ibu seharian adalah anak.

Ibu yang bahagia akan membuat rumah lebih ceria.
Ibu yang bahagia akan membuat anak-anak jauh lebih bahagia.

Ingatlah, istrimu bukan robot. Mereka bisa lelah, marah, menangis.
Jadilah suami yang bukan hanya pandai mencari nafkah.
Jadilah suami yang bisa menjadi pendengar bagi istri.

Karena suami adalah orang terdekat yang paling dibutuhkan oleh istri.

Penulis : Lyudmilla Fay (Psikolog)
Buka Komentar