Lyudmilla Fay : Jangan Menghakimi Pola Asuh Orang Lain, Lidah adalah Pembunuh Paling Tajam

Lyudmilla Fay : Jangan Menghakimi Pola Asuh Orang Lain, Lidah adalah Pembunuh Paling Tajam
Lyudmilla Fay - Bun, pernah nggak, waktu kamu lagi duduk di depan rumah, terus lihat tetangga gendong anaknya yang sudah bisa jalan dan lari-larian sendiri?


Terus kamu ngebatin: Dih, anak udah segede itu kok masih aja digendong. Bikin anaknya males nanti gedenya.

Atau, waktu kamu lagi di Pasar atau Mall terus lihat seorang Ibu membiarkan anaknya tantrum karena minta sesuatu. Lalu kamu berkomentar: Aduh, kenapa nggak dikasih aja sih? Daripada anaknya nangis di tengah pasar, kan kasihan. Malu juga sama orang yang lihatin.

Atau ini, kamu lihat seorang ibu mendiamkan anaknya yang berbuat nakal di tempat umum. Misalnya saja, anak itu lari-larian membuat kamu terganggu dan sang ibu cuma bilang, "Jangan lari-lari, Nak." Dengan nada lembut.

Lalu kamu merasa geram dan bisik-bisik ke teman kamu: Kalau anakku, pasti sudah aku cubit tuh. Kebiasaan dimanja, jadi nggak sopan di depan umum.

Itu cuma sebagian contoh saja. Hayo, Bun, jujur. Pernah nggak?

Bun, jangan pernah menghakimi pola asuh orang lain. Jangan memaksakan pendapat agar orang lain sama seperti kamu.

Setiap orang tua memiliki cara sendiri dalam mendidik anak-anaknya. Seperti kamu.

Anak umur 4 tahun masih sering digendong dan dimanja oleh ibunya. Bisa jadi, yang ada di dalam pikiran ibunya adalah: Ah, mumpung masih bisa digendong, nanti kalau sudah remaja sudah punya teman banyak, sudah dewasa, bakalan nggak bisa lagi dimanjain.

Apakah kamu masih ingin menghakimi cinta ibu tersebut untuk anaknya?

Anak tantrum di tengah Pasar/Mall, dan ibunya diam aja. Bisa jadi, si ibu sedang mengajarkan kepada anaknya, bahwa tidak semua hal yang dia mau itu bisa seketika terpenuhi. Atau karena apa yang diinginkan anaknya itu sebenarnya tidak bermanfaat. Ibunya mengabaikan anak itu tantrum, agar si anak tahu bahwa peraturan tidak akan kalah oleh tangisannya.

Apakah kamu masih ingin menghakimi ketegasan ibu tersebut?

Dan yang terakhir, ketika seorang ibu tetap bersikap lembut (tidak mencubit) ketika anaknya membuat orang lain tidak nyaman di tempat umum. Bukan berarti ibu tersebut membiarkan anaknya bersikap kurang ajar. Bisa saja si ibu sedang berusaha menahan marah dan ingin menyelamatkan mental sang anak. Sebab, Bun, memarahi seorang anak di depan umum bisa membuat mentalnya jatuh. Sama seperti kamu yang merasa malu jika dimarahi suami di depan orang lain, anak-anak pun demikian.

Jadi, masih ingin menghakimi ibu lain?

Bun, tahan hati. Ingat, kamu juga seorang ibu. Apa yang kamu katakan dan pikirkan terhadap orang lain, bisa saja kamu terima kembali dari orang sekitarmu.

Saya seorang psikolog. Entah sudah berapa orang ibu yang datang kepada saya, dan mengatakan betapa mereka tertekan dengan ocehan orang sekitar. Bahkan ada yang sampai tega memukuli anaknya, karena sering dihakimi oleh ibu lain.

Bun, coba pikirkan ini: ketika kamu menghakimi pola asuh seorang ibu, lalu mental mereka yang lemah lantas kalah. Mereka melampiaskan emosi kepada anaknya. Jika terjadi sesuatu kepada si anak, atau kepada si ibu (membunuh atau bunuh diri) apakah kamu tidak akan merasa bersalah?

Sebab jika hal buruk itu terjadi, maka kamu adalah seorang pembunuh.

Bun, mental setiap orang berbeda. Kamu mungkin kuat dengan ocehan tetangga. Tapi orang lain belum tentu.

Jadi, Bun, mari mulai sekarang berhenti menghakimi cara orang lain mengasuh anaknya. Jika ada saran, sampaikan dengan baik dan lembut. Usahakan pula saran itu memang mereka butuhkan.

Jadilah seorang Ibu yang mendukung Ibu lain. Jangan jadi Ibu yang menghancurkan Ibu lain.

Mom support Mom and Woman support Woman. Salam santun dari saya: Ibu satu putri

Penulis: Lyudmilla Fay (Psikolog)

Mau donasi lewat mana?

BRI - Saifullah (05680-10003-81533)

JAGO - Saifullah (1060-2675-3868)

BSI - Saifullah (0721-5491-550)
Merasa terbantu dengan artikel ini? Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.